Mandar di Dapur dan Cerita Tentang Gempa


Tulisan pertama di bulan Oktober. Itupun saya memaksa diri untuk bangun foto-foto karena sangat ingin menulis di Dapur Ima.

Jumat lalu, saat mengetik tentang ubi, saya sudah tahu bahwa ada gempa di Donggala, Palu, Sulawesi Tengah. Tapi, saya sama sekali tidak menyangka bahwa akan ada gempa lagi yang berpusat di Sulawesi Tengah yang guncangannya terasa sampai di Limboro, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Saat azan berkumandang di beberapa masjid dekat rumah, tiba-tiba kami (saya, adik ipar saya, dan Zahra) merasakan rumah bergoyang. Kami pikir hal tersebut disebabkan langkah adik saya, Khalil, yang badannya memang gemuk dan selalu membuat rumah Mama bergoyang ketika ia berjalan.

Namun saat goyangan tersebut tidak berhenti dan tidak ada orang yang sedang berjalan, kami lalu tersadar bahwa goyangan itu adalah gempa.

Situasi mulai panik. Rumah semakin bergoyang, suara kayu berderit dan kami serasa diayun. Adik ipar saya, Icha, yang posisinya sedang berdiri di depan pintu kamar mulai ketakutan. Saya yang berbaring di tempat tidur pegangan pada kasur dan tak sadar tiba-tiba berteriak "lanjutkan azan!" beberapa kali, ketika azan berhenti berkumandang. Sementara Zahra yang teringat kakaknya, Oi', yang ada di rumah depan langsung berlari mencari kakaknya.

Dua kali azan terhenti sampai akhirnya selesai, setelah itu lampu padam dan gempa pun berhenti (di bagian ini saya lupa yang mana yang lebih dulu. Mati lampu atau gempa berhenti).

Setelah gempa berhenti, kakak saya, Abid, datang melihat kondisi kami di rumah belakang, sementara Khalil beserta anak-anaknya berada di jalanan depan rumah beserta tetangga yang lain. Kakak saya, Adil, yang baru bangun tidur, ada di kamarnya di rumah depan dan Mama lagi di Wonomulyo.

Beberapa saat kemudian lampu menyala, tapi jaringan belum bersahabat sehingga saya belum bisa mencari informasi di mana pusat gempa. Namun saya berpikir bahwa ini pasti ada hubungannya dengan gempa di Donggala. Ternyata benar. Pusat gempa di Donggala dan menyebabkan Tsunami.

Turut berduka cita atas gempa dan Tsunami di Donggala, Palu dan sekitarnya. Semoga korban bencana diberi kekuatan, kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani semua ini.

Awal Oktober, Polewali Mandar dan Majene kembali dihebohkan oleh gempa. Setelah terjadi gempa yang pusatnya berada di laut Polewali Mandar, beredar isu akan terjadi gempa susulan dan Tsunami yang membuat masyarakat resah.

Senin, 1 Oktober 2018, anak-anak dipulangkan dari sekolah. Toko-toko di pasar tutup dan sebagian besar warga pergi mengungsi. Hal ini terjadi sampai hari ketiga di bulan Oktober. Kemarin situasi mulai normal kembali dan orang-orang kembali beraktivitas seperti biasa. Alhamdulillah. Semoga tidak terjadi lagi ya Allah.

Aduh! Kok jadi panjang begini ya ceritanya? Dapur Ima jadi tempat curhat deh.

Baiklah kita kembali ke topik yang akan saya bahas hari ini, yaitu Mandar di Dapur.

Maksudnya?

Berbagi info tentang Dapur dalam bahasa Mandar. Dan, kali ini saya pilih empat bahan makanan dan masakan, yaitu tomat, cabai, bawang merah dan bawang putih.


Kita mulai dari cabai dulu. Dalam bahasa Mandar, Cabai adalah cabe-cabe (dibaca cawe-cawe). Cabai atau cabe-cabe terdiri dari dua, yaitu: cabe-cabe kaiyyang (cabai/lombok besar) dan cabe-cabe keccu'/maranni' (cabai rawit/lombok kecil.


Selanjutnya, tomat. Tomat dalam bahasa Mandar disebut talagae (huruf G dilafalkan seperti huruf "ghain"). Pembaca mengerti kan maksud saya? Kalau tidak, silakan bertanya di kolom komentar ya.


Selanjutnya bawang merah dan bawang putih. Kalau bawang merah dan bawang putih diartikan perkata ke dalam bahasa Mandar, bawang artinya lasuna, merah artinya mamea dan putih artinya mapute. Jadi bawang merah bahasa Mandarnya adalah lasuna mamea dan bawang putih bahasa Mandarnya adalah lasuna mapute.


Saya tuliskan kembali ya.
🌶️ Cabe-cabe = cabai rawit/lombok kecil,
🍅 Talagae = tomat,
🌰 Lasuna mamea = bawang merah,
🌰 Lasuna mapute = bawang putih.

Demikian yang dapat saya tuliskan hari ini tentang Mandar di Dapur dan Cerita Tentang Gempa. Sampai jumpa pada tulisan saya berikutnya.

Salam,
Dapur Ima

Komentar

  1. Ternyata goncangan gempa terasa sampai di daerahnya mbak Imah...
    Kita hanya bisa berdoa semoga saudara2 kita yg terkena bencana diberi kekuatan dan ketabahan olehNya dlm menghadapi cobaan ini.

    BalasHapus
  2. pertama, turut berduka atas gempa di Sulawesi.
    Kedua: wah….bawang, tomat dan cabe adalah bahan untuk buat sambal.....

    Happy weekend

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak, Mbak.

      Iya ya. Tinggal ditambahin garam, jadi deh. Hehehe....

      Hapus
  3. Alhamdulillah semoga menjadi pelajaran. Termasuk resepnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal mbak Rafira dan terimakasih atas kunjungannya.

      Hapus
  4. baru tahu ini bahasa mandra bumbu2 dapur, wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tambah kosakata baru ya mbak Ella? 😀

      Hapus
    2. Hai, Mbak Ella. Lama saya tidak main ke rumah mayanya.

      Ini baru permulaan, Mbak. Nanti bakal ada lanjutannya.

      Hapus
    3. Ini tidak ada bahan ngeblog, Mas Aris. Jadi bahan dapur dijadikan bahan ngeblog juga, hihihi

      Hapus
    4. Ini yg namanya kreatif mbak Imah...
      Pengunjung blog jadi dpt kosakata baru.

      Kalo di Sulawesi sih ada berapa bhs daerah mbak?

      Hapus
    5. Hehehe....
      Syukurlah kalau begitu.

      Dulu, Polewali Mamasa, Majene dan Mamuju adalah wilayah Sulawesi Selatan, Mas Aris. Lalu pemekaran dan jadi Sulbar.

      Sulbar di dominasi oleh suku Mandar yang menggunakan bahasa Mandar meskipun ada juga bahasa lain.

      Kalau Sulawesi Selatan ada Bugis, Makassar dan Toraja.

      Hapus
  5. Ketika dengar berita gempa di sulawesi tengah saya kepikiran mba Ima, makanya WA, syukurlah baik-baik saja, walaupun terasa ya mba goncangannya sampai ke sana. Saya telp mamatua saya, ternyata ada saudara jauh di Palu yang terkena gempa, satu keluarga anggota 9 orang tidak ada kabar beritanya, kemungkinan besar terseret tsunami atau tertimpa reruntuhan, belum ada beritanya lagi.
    Saya tahu tentang lasuna ini ketika mba Ima posting bau peapi Mandar, eh dikirim lasuna mandar sekalian dengan asam mangganya dan akhirnya bisa buat deh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Allah.
      Merinding saya bacanya, mba. Sampai tidak tahu harus komen apa.

      Hapus
  6. Semoga saudara-saudari kita yang terkena musibah diberikan kesabaran,ketabahan dan pertolongan dari Allah SWT.Amin

    Semoga Mbak Taslimah, berinisiatif memberikan hasil kue buatannya untuk rekan2nya yang disana.:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.

      Maunya gitu, Kang. Apa daya tangan tak sampai. Kalau sehat, saya sudah meluncur ke sana jadi relawan.

      Hapus
  7. Syukurlah kalo gak kenapa 2 kak..

    Cabe2 an kalo di Jakarta pedas kak 🤣😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.

      Yang namanya cabe, di mana pun itu, sudah pasti rasanya pedas.

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih banyak telah berkunjung dan membaca tulisan di Dapur Ima, semoga bermanfaat. Khusus bagi komentar yang tidak sesuai dengan topik, mohon maaf karena saya akan menghapusnya.

Paling Banyak Dibaca

Manfaat Minum Entrasol QuickStart

7 Bentuk Spuit Kue dan Hasilnya